1. Business
  2. Management
  3. Communication

Menulis Pidato Yang Menarik Audiens Sejak Dari Kalimat Pembuka

Berapa kali kamu berada dalam sebuah presentasi dimana kamu terganggu, kamu berulang kali mengecek jam, atau kamu bertanya-tanya "Kapan ini akan berakhir?" Bahkan ketika presentasiya cukup menarik, kamu tetap bereaksi seperti tadi.
Scroll to top
This post is part of a series called Presentation Fundamentals.
Presentations 101: The Absolute Basics of Making a Presentation
How to Overcome Your Fear of Public Speaking

Indonesian (Bahasa Indonesia) translation by Yosef Andreas (you can also view the original English article)

Berapa kali kamu berada dalam sebuah presentasi dimana kamu terganggu, kamu berulang kali mengecek jam, atau kamu bertanya-tanya "Kapan ini akan berakhir?" Bahkan ketika presentasiya cukup menarik, kamu tetap bereaksi seperti tadi.

Mengapa presentasi sering kali membosankan? Karena dalam pemahaman tradisional tentang presentasi, tujuan mereka untuk menyampaikan informasi. Struktur presentasi tradisional merefleksikan tujuan ini. Itu adalah struktur tiga bagian yang mungkin pernah kamu jumpai beberapa kali.

  1. Perkenalan. Katakan apa yang hendak kamu katakan.
  2. Bagian utama. Buat poin-poin utamamu.
  3. Kesimpulan. Mengulang kembali apa yang telah kamu katakan.

Jika tujuanmu adalah untuk berbagi informasi, struktur ini masuk akal, pada tidak pada pandangan pertama. Itu hal yang logis. Kenapa kamu tidak membuat daftar fakta atau ide yang ingin dibagikan, satu persatu?

Dengan pendekatan ini, tanggungjawabnya adalah agar audiens tetap tertarik, mengambil catatan, dan mengingat apa yang telah dibagikan. Adil bukan, karena kamu telah melalui masalah dengan memberikan presentasi?

Masalahnya adalah, ini adalah cara yang kurang efektif untuk membagikan informasi jika kamu ingin audiens mendengarkan dan mengingatnya. Dengan mempresentasikan fakta mentah dalam sebuah gaya yang logis dan tanpa gairah, kamu mendorong audiens untuk menghilangkan dan tidak memberi perhatian.

Otak manusia terikat untuk mencari hubungan antara apa yang sudah diketahui dengan informasi baru yang mereka pelajari. Ketika presentasimu melulu berisi daftar fakta, audiens akan berusaha keras untuk menemukan hubungan ini. Mereka akan bertanya-tanya "Bagaimana ini bisa relevan atau membantu bagi saya?"

Jika kamu gagal membuat presentasimu menarik, itu bukan salah audiens sehingga mereka tidak mengingat apa yang kamu bagikan. Itu tanggung jawabmu karena gagal menulis sebuah presentasi yang menarik hati dan pikiran pendengar. Seperti yang disebutkan oleh Roger Schank dan Robert Abelson:

"Seorang guru yang baik bukanlah seorang yang menjelaskan suatu hal dengan benar tapi seseorang yang membungkus penjelasannya dalam format yang berkesan (yaitu, menarik)".

Bagaimana Menjaga Audiens Tetap Tertarik

Sebelumnya saya bertanya padamu saat - saat dimana kamu berada dalam sebuah presentasi dan merasa terganggu. Sekarang, pikirkan saat-saat kamu pergi ke bioskiop. Seberapa sering di sana kamu merasa terganggu, terus mengecek waktu, atau berharap filmnya segera selesai? Akan ada beberapa yang kurang kamu sukai, namun peluangnya adalah lebih banyak film yang membuatmu tertarik.

Jika kamu bukan penggemar film, pikirkan dalam cara ini. Banyak orang bersedia menghabiskan uang untuk menonton sebuah film, namun tidak banyak yang siap untuk membuka dompetnya untuk mendengar seseorang berbicara. Tentang hal itu, keanggotaan untuk menghadiri konferensi TED bernilai ribuan dollar per tahun. Dapatkan struktur yang benar dalam presentasimu, dan kamu akan mendapatkan permintaan.

Berikut perbedaan antara sebuah film dan presentasi yang tradisional: berbagi cerita. Film membagikan sebuah cerita. Semua yang terjadi dalam sebuah film memiliki arti karena semua kejadian di dalam film terhubung satu sama lain.

Konsultan komunikasi Nancy Duarte telah menjadikan ini pekerjaan dalam hidupnya untuk menemukan apa yang membuat sebuah presentasi yang menarik. Duarte menjelaskan:

"Cara suatu ide disampaikan yang paling efektif adalah melalui cerita. Selama ribuan tahun generasi buta huruf akan menurunkan nilai-nilai dan budaya mereka dari generasi ke generasi, dan mereka akan tetap utuh. Ada sesuatu yang magis tentang sebuah struktur cerita yang membuatnya sehingga ketika itu disusun itu dapat ditelan dan lalu diingat oleh orang yang menerimanya."

Poin Duano adalah ketika informasi ditanamkan dalam sebuah cerita, kita akan lebih mudah untuk mengenalnya.

Dan berikut Schank dan Abelson lagi:

"Orang tidak logis sama sekali...manusia tidak benar-benar disiapkan untuk mendengar sesuatu yang logis... Orang membutuhkan suatu konteks untuk membantu mereka menghubungkan apa yang telah mereka dengar dengan apa yang telah mereka tahu. Kita mengerti kejadian-kejadian dalam kondisi kejadian lain yang telah kita ketahui."

Dengan kata lain, dengan membagikan dalam presentasimu, kamu memberikan audiens sesuatu yang membuat mereka nyambung. Ini membuat presentasimu lebih berarti pada audiens, sehingga mereka akan lebih mengingat apa yang kamu bagikan.

Cerita-cerita menahan perhatian dan menarik otak kita. Mereka juga menarik tubuh kita. Ketika kamu merasa asyik dalam sebuah cerita, kamu bereaksi secara fisik. Jika cerita itu menegangkan, detak jantungmu meningkat dan perutmu mengencang. Jika cerita itu lucu, kamu mungkin tersenyum atau tertawa. Dalam cara ini, cerita-cerita mengajak audiens untuk secara fisik berpartisipasi dalam presentasimu.

Pada bagian luar, sebuah presentasi yang disusun menggunakan teknik bercerita tampak sama persis seperti sebuah presentasi tradisional. Itu masih memiliki bagian perkenalan, bagian utama dan sebuah kesimpulan. Perbedaannya adalah isi dari ketiga bagian ini:

  • Perkenalan. Buka dengan sebuah hook.
  • Bagian utama. Bagikan cerita atau serial cerita, masing-masing dengan sebuah poin atau tujuan.
  • Kesimpulan. Akhiri dengan sebuah dorongan untuk bertindak, yang dapat juga disebut sebagai dorongan untuk berpetualang.

Mari kita lihat lebih dalam tiap bagian ini: hook, serial cerita dan dorongan untuk bertindak.

Tuliskan Sebuah Hook— Temukan Celah

Hook ada di sekitar kita. Internet telah memendekkan rentang perhatian orang-orang, sehingga penulis web tahu mereka harus mendapatkan perhatian pembaca dengan kalimat pembuka. Kalimat pembuka ini disebut dengan hook, karena jika kamu menulis hook yang efektif, kamu dapat menarik pembaca untuk membaca artikel atau blog post hingga selesai.

Ketika kamu memberikan sebuah pidato, audiens adalah tawanan. Tidak seperti pembaca online, mereka tidak dapat menarik diri jika kamu tidak mendapatkan perhatian mereka dengan kalimat pembuka. Ini memberikanmu lebih banyak waktu untuk membangun hook yang memuaskan. Tetap saja, kamu harus membuatnya sesingkat mungkin.

Sebuah hook dapat berupa

  • kutipan
  • pertanyaan
  • anekdot
  • fakta atau statistik yang mengejutkan

Atau campuran di atas

Rahasia untuk menemukan sebuah hook yang menarik audiens adalah dengan menemukan celah. "Celah" ini adalah konsep yang diciptakan oleh Nancy Duarte. Itu adalah perbedaan antara: dimana audiens berada sekarang; dan sebuah tempat yang lebih baik yang bisa mereka tuju.

Mari melihat lebih dalam tentang ini. Dengan kebanyakan presentasi bisnis, tujuanmu adalah untuk mendorong audiens untuk mengambil tindakan. Tindakan ini dapat berapa memberikanmu pekerjaan impianmu, membeli produk yang kamu jual, atau menerapkan sebuah skill baru yang kamu ajarkan.

Untuk menyoroti gap, kamu memulai dengan dimana audiens berada sebelum mereka mendengarkan presentasimu. (Yaitu mengapa penting untuk mengenal audiens sebelum kamu menuliskan presentasi). Kamu tidak perlu menjelaskan situasi mereka secara mendalam. Mereka tahu seperti apa kehidupan mereka. Sebagai gantinya, kamu perlu menjelaskan kesulitan-kesulitan yang mereka hadapi karena situasi terkini mereka.

Setelah kamu menjelaskan kesulitan-kesulitan ini, langkah kamu berikutnya adalah untuk menunjukkan audiens bagaimana hidup mereka bisa lebih baik jika mereka mengambil tindakan yang kamu rekomendasikan.

Catatan: Kamu dapat melakukan bagian kedua dari proses ini. Dengan menunjukkan audiens bagaimana kehidupan mereka dapat berbeda, kamu mengisyaratkan bahwa ada celah di sana. Yang terpenting adalah menyelidiki audiens, jadi kamu tahu celah apa yang ada.

Jangan tergoda untuk menyimpulkan solusimu di sini. Jika kamu menjelaskan solusi di awal, itu tidak akan menjadi sebuah hook. Sebuah hook membuat sensasi misteri dan sebuah keinginan untuk terus mendengarkan. Menjelaskan solusimu akan merusak misteri itu.

Berikut adalah sebuah contoh. Mari katakan kamu telah diminta untuk berbicara di tempat kerjamu untuk membantu tim-mu menjadi lebih kreatif. Kamu memutuskan untuk fokus tentang rasa ingin tahu, dan kamu mendapatkan strategi sederhana yang dapat digunakan tim untuk menjadi lebih ingin tahu.

Dalam struktur pidato tradisional, kamu akan membuka omongan dengan mengatakan: "Saya akan mengajarkanmu beberapa metode untuk menjadi lebih ingin tahu". Membosankan atau apa? Separuh audiens telah kehilangan rasa ingin tahu terlebih dahulu dengan mendengarkan omonganmu.

Sebagai gantinya, gunakan sebuah hook. Sebagai contoh, kamu dapat mengutip Albert Einstein: "Hal terpenting bukan berhenti bertanya. Rasa ingin tahu memiliki alasannya sendiri untuk ada".

Atau kamu dapat mengatakan: "Apakah kamu tahu bahwa menjadi ingin tahu bagus untukmu? Riset menunjukkan bahwa orang yang ingin tahu lebih bahagia. Dan ilmuwan telah menemukan bahwa menemukan hal-hal baru membantu mengembangkan ketahanan terhadap penyakit seperti Alzheimer dan Dementia".

Kamu lalu dapat menjelaskan orang yang ingin tahu cenderung lebih berpikiran terbuka, persisten dan kreatif. Mereka juga cenderung mampu mengenali peluang.

Lalu, kamu dapat menyelesaikan hook dengan mengatakan "Saya akan memperkenalkanmu tiga strategi sederhana yang dapat kamu gunakan untuk mengaktifkan rasa ingin tahumu".

Dalam contoh ini, saya telah menghubungkan rasa ingin tahu ke sesuatu yang relevan dan penting bagi audiens. Dalam hook pertama, saya telah menghubungkan rasa ingin tahu dengan seseorang yang terkenal yang mungkin dikagumi oleh audiens. Dalam hook kedua, saya telah menunjukkan manfaat rasa ingin tahu bagi kesehatan dan kebahagiannya.

Dalam melakukan ini, saya telah menyoroti celah antara dimana audiens berada hari ini dan dimana mereka bisa berada. Dengan demikian, saya telah membangkitkan intrik mereka, sehingga mereka akan ingin mendengarkan saya.

Untuk melihat ini dari sudut pandang yang lain, kamu dapat memikirkan presentasimu sebagai sebuah cerita misteri. Dalam hook-mu, kamu menanamkan beberapa petunjuk bagi audiens tentang bagaimana kemungkinan akhirnya. Namun kamu tidak boleh memberikan endingnya, jika tidak misteri itu akan kehilangan ksemua etegangannya.

Memegang Perhatian — Berbagi Cerita

Setelah hook selesai, apa selanjutnya? Langsung meluncur ke cerita.

Isi presentasimu harus termasuk berbagi cerita yang membimbing ke poin-poin yang ingin kamu buat. Kamu dapat melihat ini dilakukan dengan sangat ahli dalam studi kasus Steve Jobs.

Selain menarik dan menawan, bercerita memiliki keuntungan lainnya.

Cerita mendorong kamu untuk menggunakan bahasa yang tegas dan akurat yang mengaktifkan emosi audiens. Sebagai tambahan, dengan bercerita kamu akan menghindari risiko menjelaskan dalam cara yang kabur. Cerita-ceritamu mendorong audiens untuk menghubungkan apa yang kamu ajarkan dengan kehidupan mereka sendiri.

Di atas itu, cerita meningkatkan rasa antisipasi audiens. Dalam hook, kamu membuat sebuah janji tentang apa yang akan mereka pelajari dari presentasimu. Kamu telah memuaskan selera mereka, dan mereka bersemangat untuk mencari tahu apa yang akan kamu ajarkan ke mereka. Dengan membagikan cerita, kamu menahan diri dari memberikan apa yang kamu janjikan, paling tidak untuk saat ini.

Untuk kembali ke kiasan bahwa presentasimu adalah sebuah cerita misteri, kamu tetap menolak untuk memberikan endingnya. Ini membuat audiens tetap tertarik. Mereka menikmati ceritamu, dan mereka menunggu untuk mendapatkan apa yang kamu janjikan.

Untuk membuat teknik ini lebih ampuh, kamu dapat menambahkan hook tambahan sepanjang presentasimu. Saya menyebutnya hook internal. Penggunaan hook paling mudah dan cocok pada hampir semua presentasi adalah "Kita akan tiba pada itu sesaat lagi". Hook internal lainnya adalah mulai bercerita, lalu sebelum kamu mencapai akhir cerita, mulailah cerita lainnya. Hanya tampilkan akhir cerita pertama belakangan dalam presentasimu.

Terakhir, coba untuk membatasi presentasimu ke tiga poin pembelajaran untuk dibawa oleh audiens. Angka tiga secara tradisional diasosiasikan dengan dongeng (pikirkan Goldilocks, Tiga Babi Kecil, dan sebagainya). Itu juga adalah jumlah poin yang mudah diingat oleh audiens.

Kebanyakan orang hanya dapat menyimpan tujuh bagian informasi dalam pikiran mereka selama satu waktu. Tidak peduli seberapa efektif kamu melibatkan audiens, mereka akan memiliki hal-hal lainnya untuk dipikirkan di atas apa yang kamu ajarkan dalam presentasi.

Dorongan Untuk Bertindak — Dorongan Untuk Bertualang

Menyelesaikan presentasimu dengan sebuah dorongan untuk bertindak adalah berdasarkan alasan yang sederhana bahwa orang cenderung melakukan sesuatu jika kamu memintanya. Dalam memberikan dorongan untuk bertindak, kamu memiliki tujuan untuk memotivasi audiens dalam bertindak pada apa yang telah kamu ajarkan.

Kamu tidak dapat memaksa audiens untuk mengambil tindakan. Namun kamu dapat menyalakan keinginan mereka untuk mengambil tindakan. Nyatanya, kamu telah menyalakan keinginan ini sepanjang presentasimu, mulai dari saat kamu membagikan hook. Tujuanmu sekarang adalah memompa teriakan yang lebih keras dan mendapatkan nyala keinginan itu seterang mungkin. Berikut bagaimana kamu melakukannya.

  • Ingatkan audiens dimana mereka dapat berada jika mereka mengambil tindakan atas apa yang telah mereka pelajari. Dengan kata lain, nyatakan kembali hook itu.
  • Simpulkan bagaimana audiens dapat mengambil tindakan. Dengan kata lain, nyatakan kembali tiga poin utama yang kamu berikan dalam bagian utama presentasimu.

Kamu dapat juga memikirkan dorongan untuk bertindak sebagai dorongan untuk berpetualang. Dalam dunia dongeng, dorongan untuk berpetualang adalah ketika pahlawan dalam cerita diberikan peluang untuk keluar dari dunia yang biasa menuju sebuah realitas baru.

Kamu memberikan audiens peluang untuk bergerak menuju sebuah realitas yang baru. Kamu telah mempresentasikan alat-alat yang dapat mereka gunakan untuk menangani tantangan yang dihadapi dengan lebih baik. Semua yang perlu mereka lakukan sekarang adalah mengambil tindakan. Kamu meminta mereka untuk menanamkan apa yang telah mereka pelajari ke dalam kehidupan mereka.

Jadi, waktu berikutnya kamu diminta untuk memberikan sebuah presentasi, mengapa tidak menanamkan apa yang telah kamu pelajari dari artikel ini? Buat model pembicaraanmu mengikuti struktur bercerita. Kamu akan melihat audiens merespon dalam cara yang benar-benar berbeda.

Sumber

Kredit Grafis: Presentation didesain oleh Alexander Bickov dari Noun Project. Menulis didesain oleh Rediffusion dari Noun Project.