Advertisement
  1. Business
  2. Risk Analysis
Business

Jenis-Jenis Utama Risiko Bisnis

by
Difficulty:BeginnerLength:MediumLanguages:
This post is part of a series called Managing Risk in Your Business.
How to Measure Risk in Your Business

Indonesian (Bahasa Indonesia) translation by Diana Mufi Pratiwi (you can also view the original English article)

Bisnis menghadapi segala jenis risiko, beberapa di antaranya bisa menyebabkan kehilangan profit yang serius atau bahkan kebangkrutan. Namun sementara semua perusahaan besar memiliki departemen "manajemen risikio" yang ekstensif, bisnis yang lebih kecil cenderung tidak melihat permasalahan ini di dalam cara yang sistematis.

Jadi di dalam seri tutorial empat bagian ini, kamu akan mempelajari dasar-dasar manajemen risiko dan bagaimana kamu bisa menerapkannya di dalam bisnismu.

Di dalam tutorial pertama ini, kita akan membahas jenis utama risiko yang mungkin dihadapi bisnismu. Kamu akan mendapatkan rincian risiko strategis, risiko kepatuhan, risiko operasional, risiko finansial, dan risiko reputasi, sehingga kamu mengerti apa maknanya, dan bagaimana mereka bisa mempengaruhi bisnismu. Kemudian kita akan memasuki hal-hal spesifik dari mengidentifikasi dan menangani risiko-risiko ini di dalam tutorial nantinya pada seri ini.

1. Risiko Strategis

Setiap orang tahu bahwa sebuah bisnis yang sukses memerlukan sebuah perencanaan bisnis yang komprehensif dan matang. Namun itu juga adalah sebuah fakta kehidupan bahwa hal-hal berubah, dan rencana terbaikmu terkadang menjadi usang dengan sangat cepat.

Ini adalah risiko strategis. Merupakan risiko jika strategi perusahaanmu menjadi kurang efektif dan perusahaanmu bersusah payah mencapai goal sebagai hasilnya. Itu bisa dikarenakan perubahan teknologi, kompetitor baru yang kuat yang memasuki pasar, perubahan dalam permintaan pelanggan, pembengkakan biaya bahan baku, atau perubahan skala besar lainnya.

Sejarah dipenuhi dengan contoh-contoh perusahaan yang menghadapi risiko strategis. Beberapa mampu beradaptasi dengan sukses; sementara yang lainnya tidak.

Sebuah contoh klasik adalah Kodak, yang memiliki posisi dominan di dalam pasar fotografi film dimana ketika teknisinya menemukan sebuah kamera digital di tahun 1975, perusahaan melihat inovasi sebagai ancaman terhadap model bisnisnya, dan gagal mengembangkannya.

Tentu saja mudah mengatakan sesuatu dalam kilas balik, namun jika Kodak menganalisa risiko strategis dengan sangat hati-hati, perusahaan tersebut akan menyimpulkan bahwa seseorang lainnya akan mulai membuat kamera digital, jadi lebih baik bagi Kodak untuk merombak bisnisnya sendiri daripada perusahaan lain yang melakukannya.

Kegagalan beradaptasi pada risiko strategis membawa pada kebangkrutan bagi Kodak. Sekarang ini bangkit dari kebangkrutan sama besarnya seperti perusahaan kecil yang berfokus pada solusi pencitraan korporasi, namun jika perusahaan itu membuat perubahan dengan segera, itu bisa tetap mempertahankan dominasinya.

Namun menghadapi risiko strategis tidak harus menjadi bencana. Pikirkan Xerox, yang menjadi sinonim dengan produk tunggalnya yang sangat sukses, mesin fotokopi Xerox. Pengembangan cetak laser merupakan risiko strategis bagi posisi Xerox, namun tidak seperti Kodak, perusahaan ini mampu beradaptasi pada teknologi baru dan mengubah model bisnisnya. Cetak laser menjadi lini bisnis bernilai multi miliar dolar bagi Xerox, dan perusahaan ini bertahan dari risiko strategis.

2. Risiko Kepatuhan

Apakah kamu mematuhi semua hukum dan regulasi yang berlaku pada bisnismu?

Tentu saja (saya harap!). Namun hukum berubah sepanjang waktu, dan selalu ada risiko dimana kamu akan menghadapi regulasi tambahan di masa mendatang. Dan seiring berkembangnya bisnismu, kamu mungkin merasa perlu mematuhi aturan-aturan baru yang tidak berlaku sebelumnya.

Sebagai contoh, katakanlah kamu menjalankan sebuah kebun organik di California, dan menjual produkmu di toko bahan makanan di seluruh US. Semuanya baik-baik saja sehingga kamu memutuskan untuk mengembangkan ke Eropa dan mulai menjual di sana.

Itu bagus, namun kamu juga mendatangkan risiko kepatuhan yang signifikan. Negara-negara Eropa memiliki aturan tersendiri mengenai keamanan pangan, aturan pelabelan, dan masih banyak lagi. Dan jika kamu membangun anak perusahaan di Eropa untuk menangani itu semua, kamu akan perlu mematuhi aturan akuntansi dan pajak daerah. Memenuhi semua persyaratan regulasi ekstra tersebut bisa berakhir dengan menjadi sebuah biaya yang signifikan bagi bisnismu.

Bahkan jika bisnismu tidak berkembang secara geografis, kamu bisa tetap mendatangkan risiko kepatuhan baru hanya dengan mengembangkan lini produkmu. Katakanlah kebunmu di California mulai memproduksi anggur selain makanan. Menjual alkohol membukamu pada regulasi yang benar-benar baru, dengan kemungkinan harga yang mahal.

Dan terakhir, bahkan jika bisnismu tetap tidak berubah, kamu bisa terkena dengan regulasi baru kapanpun. Barangkali aturan perlindungan data yang baru memerlukanmu untuk meningkatkan keamanan website, sebagai contoh. Atau regulasi keamanan karyawan yang berarti kamu perlu berinvestasi dalam peralatan yang baru dan lebih aman di dalam pabrikmu. Atau barangkali kamu tanpa sengaja telah melanggar sebuah aturan, dan harus membayar denda. Semua hal ini melibatkan biaya, dan menghadirkan risiko kepatuhan pada bisnismu.

Dalam kasus ekstrim, sebuah risiko kepatuhan juga bisa mempengaruhi masa depan bisnismu, yang juga menjadi risiko strategis. Pikirkan perusahaan tembakau yang menghadapi larangan baru dalam periklanan, misalnya, atau layanan berbagi musik daring akhir tahun 1990-an yang dituntut karena pelanggaran hak cipta dan tidak mampu bertahan di dalam bisnis tersebut. Kita memecah risiko-risiko ini menjadi kategori yang berbeda-beda, namun mereka seringkali bertindihan.

3. Risiko Operasional

Sejauh ini, kita telah membahas risiko yang tumbuh dari kejadian eksternal. Namun perusahaanmu sendiri juga merupakan sumber risiko.

Risiko operasional mengacu pada kegagalan yang tidak diharapkan di dalam operasi harian perusahaanmu. Itu bisa berupa kegagalan teknis, seperti matinya server, atau bisa disebabkan oleh orang atau proses.

Di dalam beberapa kasus, risiko operasional memiliki lebih dari satu penyebab. Sebagai contoh, pertimbangkan risiko bahwa salah satu karyawanmu menuliskan jumlah yang salah pada sebuah cek, yang membayar $100,000 bukannya $10,000 dari rekeningmu.

Itu adalah kegagalan "orang", tapi juga kegagalan "proses". Itu bisa saja dicegah dengan memiliki proses pembayaran yang jauh lebih aman, misalnya dengan memiliki anggota atau staf kedua yang mengesahkan setiap pembayaran dalam jumlah besar, atau dengan menggunakan sistem elektronis yang akan memberi peringatan terhadap angka yang tidak biasa untuk dikaji.

Di dalam beberapa kasus, risiko operasional juga bisa tumbuh dari kejadian-kejadian di luar kendalimu, seperti bencana alam, atau putusnya daya, atau permasalahan dengan host website. Apapun yang mengganggu operasi inti perusahaanmu berada dalam kategori risiko operasional.

Sementara kejadian itu sendiri bisa tampak cukup kecil dibandingkan dengan risiko strategis yang besar yang telah kita bicarakan sebelumnya, risiko operasional bisa tetap memiliki dampak besar pada perusahaanmu. Tidak hanya adanya biaya menyelesaikan permasalahan, namun permasalahan operasional juga bisa mencegah pengiriman pesanan pelanggan atau membuat mereka tidak bisa menghubungimu, yang menghasilkan kerugian dan rusaknya reputasi.

4. Risiko Finansial

Kebanyakan kategori risiko memiliki dampak finansial, dalam istilah biaya ekstra atau hilangnya pendapatan. Namun kategori risiko finansial mengacu secara khusus pada uang yang masuk dan keluar dalam bisnismu, dan kemungkinan kerugian finansial secara tiba-tiba.

Sebagai contoh, katakanlah bahwa proporsi besar dari pendapatanmu datang dari satu klien besar, dan kamu memperpanjang kredit 60 hari pada klien tersebut (lebih lanjut mengenai perpanjangan kredit dan penanganan arus kas, lihat tutorial kami sebelumnya tentang  arus kas).

Di dalam kasus tersebut, kamu memiliki risiko finansial yang signifikan. Jika pelanggan tersebut tidak mampu membayar, atau menunda pembayaran untuk alasan apapun, maka bisnismu berada dalam masalah besar.

Memiliki banyak hutang juga meningkatkan risiko finansial, khususnya jika kebanyakan dari itu adalah hutang jangka pendek yang memiliki batas waktu sangat dekat. Dan bagaimana jika nilai bunga naik secara tiba-tiba, dan alih-alih membayar 8% pinjaman, kamu sekarang membayar 15%? Itu merupakan biaya ekstra yang besar bagi bisnismu, dan dengan demikian dianggap sebagai risiko finansial.

Risiko finansial meningkat ketika kamu melakukan bisnis secara internasional. Mari kembali ke contoh kebun California yang menjual produk-produknya di Eropa. Ketika itu membuat penjualan di Perancis atau Jerman, penghasilannya datang dalam bentuk euro, dan penjualan di UK datang dalam bentuk pounds. Nilai tukar selalu berfluktuasi, yang berarti bahwa jumlah yang diterima perusahaan dalam dolar akan berubah. Perusahaan bisa saja membuat lebih banyak penghasilan bulan depannya, sebagai contoh, namun menerima lebih sedikit uang dalam dolar. Itu merupakan risiko finansial besar untuk diperhitungkan.

5. Risiko Reputasi

Ada banyak jenis bisnis yang berbeda, namun mereka semua memiliki satu hal yang sama: tidak peduli di industri mana kamu berada, reputasimu adalah segalanya.

Jika reputasimu rusak, kamu akan melihat kerugian langsung, dimana pelanggan menjadi khawatir dalam berbisnis denganmu. Namun ada efek lainnya juga. Karyawanmu mungkin menurun semangatnya dan bahkan mungkin memutuskan untuk pergi. Kamu mungkin kesulitan dalam mencari pengganti yang bagus, karena kandidat potensial telah mendegar reputasi burukmu dan tidak ingin bergabung dengan perusahaanmu. Pemasok mungkin mulai menawarkan syarat-syarat yang kurang disukai. Pengiklan, sponsor atau rekan lainnya mungkin memutuskan bahwa mereka tidak ingin lagi diasosiasikan denganmu.

Risiko reputasi bisa dalam bentuk gugatan hukum, sebuah penarikan produk yang memalukan, publikasi negatif tentang kamu atau staf kamu, atau kritik pedas mengenai produk atau layananmu. Dan saat ini, tidak diperlukan kejadian besar untuk menyebabkan kerusakan reputasi; itu bisa berupa kematian perlahan oleh ribuan tweet negatif dan ulasan produk online.

Langkah Berikutnya

Sekarang kamu tahu mengenai risiko utama yang bisa dihadapi oleh bisnismu. Kita telah membahas lima jenis risiko bisnis, dan contoh-contoh bagaimana mereka bisa mempengaruhi bisnismu.

Ini adalah fondasi strategi manajemen risiko untuk bisnismu, namun tentu saja ada lebih banyak pekerjaan untuk dilakukan. Langkah berikutnya adalah melihat lebih dalam pada tiap jenis risiko, dan mengidentifikasi hal-hal yang bisa keliru, dan dampak yang disebabkannya.

Tidak ada gunanya untuk mengatakan, katakanlah, "Bisnis kami tunduk pada risiko operasional". Kamu perlu menjadi sangat detail, dan mengamati setiap aspek operasi untuk menemukan hal-hal yang mungkin bisa menyebabkan kesalahan. Kemudian kamu hadir dengan sebuah strategi dalam menangani risiko tersebut.

Kita akan membahas semuanya di tutorial lanjutan, jadi tetaplah mengikuti kelanjutan seri mengenai cara mengelola risiko dalam bisnismu. Berikutnya adalah tutorial tentang pengukuran dan evaluasi risiko yang berbeda.

Advertisement
Advertisement
Looking for something to help kick start your next project?
Envato Market has a range of items for sale to help get you started.